Aspek Humanis “Memanusiakan” Manusia, Plt Kasatpol PP Beri Solusi Saat Tindak PKL

Kamis, 8 Des 2022 | 13:27 Wib
Plt Kasatpol PP Deni Mulyadi

KABUPATEN BEKASI, POSRONDA.ID – Penegakan Peraturan Daerah (Perda) memang sudah menjadi tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dengan begitu, Satpol PP kerap berhadapan dengan para pedagang kaki lima (PKL) yang mana sering melakukan dugaan pelanggaran Perda dalam menjalankan kegiatannya berdagang.

Dalam menyikapi persoalan para PKL yang sering melakukan pelanggaran peraturan daerah tersebut, Satpol PP Kabupaten Bekasi dibawah kepemimpinan Deni Mulyadi selaku Pelaksana tugas (Plt) Kasat Pol PP selalu mengedepankan aspek humanis dengan memanusiakan manusia.

Bahkan, pihak Satpol PP setempat seperti diutarakan Deni Mulyadi saat ditemui diruang kerjanya menuturkan, berkaca pada pengalaman hidupnya yang lahir dari ibu seorang pedagang kaki lima, dirinya tidak ingin tindakan kurang baik yang pernah dialaminya saat membantu sang ibu berdagang dialami para PKL.

Untuk itu, aspek humanis selalu dikedepankan dirinya dalam setiap penegakan aturan saat melakukan penertiban terhadap para PKL yang melanggar Perda.

Selain itu tambah mantan Camat Babelan dan Tambun Utara Kabupaten Bekasi itu, setiap melakukan tindakan terhadap para PKL pihaknya selalu memberikan solusi. “Sebelum melakukan tindakan kita (Satpol PP) selalu memberikan solusi dengan mengedukasi para PKL. Selanjutnya usai melakukan tindakan kita juga melakukan langkah berikutnya yakni, berkoordinasi dengan instansi terkait,” terang Deni.¬†

Adapun edukasi yang disampaikan menurut Deni, dengan memberi arahan kepada para PKL agar menempati lokasi berdagang ditempat yang sesuai aturan yang ada.

“Intinya langkah utama dalam penegakan Perda terhadap para PKL, pihak Satpol yang saya komandoi selalu mengutamakan aspek¬† humanis untuk langkah awal. Dan ketegasan bakal dilakukan jika diperlukan guna menjaga wibawa pemerintah dalam hal ini Pemkab Bekasi,” tukas anak pertama dari 3 bersaudara dengan ayah seorang penjahit konveksi dan ibu pedagang PKL,” Rabu (7/12/2002).

Deni lebih jauh mengatakan, selain bekerja dalam melakukan penindakan, selaku pimpinan dirinya selalu menekankan kepada para anggotanya agar bertindak sesuai standar operasional operasi (SOP) juga dirinya pernah merasakan dan mengalami saat ditertibkan Satpol PP, dimana dahulu bernama Tibum.

“Artinya Saya selalu menekankan kepada para anggota agar selalu bertindak sesuai SOP. Artinya tidak sewenang-wenang atau mentang – mentang, karena saya tau apa yang dirasakan PKL saat ditertibkan dimana situasi itu pernah Saya alami,” papar pria yang mengaku tidak pernah terpikirkan sebelumnya bakal menjadi aparatur sipil negara (ASN) terlebih bertugas di Satpol PP.

Ditambahkan Deni Mulyadi, dalam setiap melakukan tindakan, dirinya juga selalu mempersiapkan segala hal, salah satunya dengan wajib melihat karakter dari penindakan. Karena kata dia, ada penegakan yang bisa mengendapkan aspek humanis, tapi ada juga yang harus tegas agar supaya wibawa pemerintah tetap ada. Itu tentu harus sesuai dengan SOP yang ada.

“Makanya dalam setiap kesempatan, selaku pimpinan di Satpol PP, Saya kerap berpesan kepada semua anggota agar harus terus belajar dan jangan pernah puas dengan ada,” ucap Deni.

Ayah tiga anak itu juga mengatakan, meski dahulu saat remaja pernah mendapat tindakan refresif dari petugas Tibum saat berdagang milik ibunya, dan sekarang menjabat petinggi di Satpol PP namun tidak membuatnya menjadikan pengalaman dahulu sebagai dendam.

“Saya bukan tipikal pendendam, malah justeru Saya lebih memilih memanusiakan manusia dalam setiap mengambil kebijakan saat melakukan tindakan penegakan Perda,” ujar lulusan STPDN tersebut.(par)